Klu pada Lebaran kali ini saiia ketemu orang dan langsung minta maaf, kek nya itu agag aneh dalam pandangan etika sosial. Sebab saiia minta maaf itu fokusnya adalah tuk kepentingan Idul Fitri saiia pribadi. Jadi dengan minta maaf, berarti saiia mendahulukan kepentingan pribadi dari pada kepentingan orang lain.
Klu.. sekali lagi, mau ikut teorema Al-Fatihah, maka seharusnya, sebelum saiia mohon permaafan, terlebih dulu saiia haruslah menyatakan, bahwa saiia telah memaafkan Anda. Memerdekakan Anda. Menyumbangkan proses Idul Fitri Anda. Untuk konteks yang mungkin saiia terapkan melalui post ini, saiia mencoba menerapkan ayat-ayat Al-Fatihah tersebut. Sebelum saiia mohon kemerdekaan, saiia wajib lebih dulu memerdekakan.
Maka perkenankan saiia sampiakan ikrar pemerdekaan atau pemfitrian saiia pada para sahabat blogger, kelompok-kelompok, panitia acara-acara, yang entah karena dorongan apa, pernah mengklaim nama saiia, mencantumkan nama saiia dalam publikasi tanpa menghubungi dan meminta persetujuan saiia. Temen-temen yang memperlakukan saiia hanya sebagai alat dari kepentingan mereka. Yang mengingkari akad dengan saiia. Temen-temen yang gag bersedia menerima saiia sebagai manusia biasa yang juga punya kondisi-kondisi normal, yang waktu dan tenaganya terbatas, yang harus cari duit, yang butuh waktu buat berkarya dengan baik, yang butuh istirahat. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Perkenankan saiia menyatakan bahwa sejak detik pertama egoistik atau bahkan eksploitatif seperti ini terjadi, saiia telah langsung pula memaafkan. Memaafkan bahwa untuk melakukan shock therapy terhadap akibat-akibat ideologi cinta model Isa yang saiia terapkan bertahun-tahun, tajribah binti eksperimen dengan terapan ideologi haq model Musa yang keras tanpa kompromi. Percayalah.. oleh karena gonjang-ganjing tersebut saiia berharap sesudahnya bisa menemukan manajemen hub bin cinta dan haq a.k.a. kebenaran yang seimbang dan tertata menjadi sesuatu yang lebih etis, penuh pengertian, benar, baik dan indah serta saling menyayangi secara haq.
Khotamallohu ala qulubihim wa 'ala sam'ihim wa 'ala abshorihim... Mohon samudera jiwa Anda, temen-temen semua, akang, mba', Sir, jeneungan, kita bisa saling merdeka-memerdekakan dan dengan begitu akan lebih lapang jalan tuk memperoleh pengampunan Allah.
***
[...]
Klu.. sekali lagi, mau ikut teorema Al-Fatihah, maka seharusnya, sebelum saiia mohon permaafan, terlebih dulu saiia haruslah menyatakan, bahwa saiia telah memaafkan Anda. Memerdekakan Anda. Menyumbangkan proses Idul Fitri Anda. Untuk konteks yang mungkin saiia terapkan melalui post ini, saiia mencoba menerapkan ayat-ayat Al-Fatihah tersebut. Sebelum saiia mohon kemerdekaan, saiia wajib lebih dulu memerdekakan.
Maka perkenankan saiia sampiakan ikrar pemerdekaan atau pemfitrian saiia pada para sahabat blogger, kelompok-kelompok, panitia acara-acara, yang entah karena dorongan apa, pernah mengklaim nama saiia, mencantumkan nama saiia dalam publikasi tanpa menghubungi dan meminta persetujuan saiia. Temen-temen yang memperlakukan saiia hanya sebagai alat dari kepentingan mereka. Yang mengingkari akad dengan saiia. Temen-temen yang gag bersedia menerima saiia sebagai manusia biasa yang juga punya kondisi-kondisi normal, yang waktu dan tenaganya terbatas, yang harus cari duit, yang butuh waktu buat berkarya dengan baik, yang butuh istirahat. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Perkenankan saiia menyatakan bahwa sejak detik pertama egoistik atau bahkan eksploitatif seperti ini terjadi, saiia telah langsung pula memaafkan. Memaafkan bahwa untuk melakukan shock therapy terhadap akibat-akibat ideologi cinta model Isa yang saiia terapkan bertahun-tahun, tajribah binti eksperimen dengan terapan ideologi haq model Musa yang keras tanpa kompromi. Percayalah.. oleh karena gonjang-ganjing tersebut saiia berharap sesudahnya bisa menemukan manajemen hub bin cinta dan haq a.k.a. kebenaran yang seimbang dan tertata menjadi sesuatu yang lebih etis, penuh pengertian, benar, baik dan indah serta saling menyayangi secara haq.
Khotamallohu ala qulubihim wa 'ala sam'ihim wa 'ala abshorihim... Mohon samudera jiwa Anda, temen-temen semua, akang, mba', Sir, jeneungan, kita bisa saling merdeka-memerdekakan dan dengan begitu akan lebih lapang jalan tuk memperoleh pengampunan Allah.
Biasanya, pada hari-hari besar dan khusus, terutama Idul Fitri dan Tahun Baru, seharian saiia akan bengong ajja dan mengunci pintu di kamar saiia.Entah kenapa. Mungkin karena saiia ngerasa gag berhak atas hari besar itu. Pertama gag berhak secara sosial: dimana-mana orang sibuk dengan sanak saudara dan pesta di lingkungkungannya masing-masing, sementara saiia,
kalaupun sampe keluar rumah, saiia takut orang-orang yang kenal sama saiia akan merasa terfetakompli untuk melibatkan saiia dalam kesibukannya. Maka saiia ngeleng ajja di bilik kumuh lembab saiia. Sukur-sukur ada sisa makanan dan minuman, sebab pada hari raya biasanya susah cari warung. Klu gag, iia saiia puasa dulu asalkan ada asap roko' yang bisa dikepulkan, lmao.
Kedua, mungkin secara pribadi saiia merasa belum lulus untuk ikut ber-Idul Fitri-an. Dosa saiia terlalu bertumpuk tuk bisa saiia saponi hanya dengan puasa satu bulan.
Memang, saiia bole bermanja sama Tuhan seperti Syaikh Abu Nawas: "Hamba ini ndak cocok masuk Surga, tapi klu Kau masukkan ke Nereka.. iia jangan duonk... :p"
Lantas sehari sesudah Ied biasanya saiia langsung beredar ke mana ajja nemuin siapa ajja tuk meminta maaf. Tapi saiia juga tetep takut pada tatapan mata orang. Dari kilatan mata seseorang dan dari guratan saraf di wajahnya serta dari cara badannya bergerak di depan saiia, sering saiia rasakan bahwa di dalam dirinya tetap ada kamar gelap yang saiia gag bisa jamin.
Ini bukan sangka buruk. Mungkin ini sekedar efek dari pengalaman hidup saiia yang ribuan kali ditikam dari belakang oleh orang-orang yang di depan saiia selalu tersenyum.
Saiia ungkapkan hal-hal semacam ini justru untuk menyatkan bahwa bagi saiia, memaafkan orang lain adalah kontrak seumur-hidup. Namun pada saat yang sama, saiia takut orang lain yang gag sungguh-sungguh memaafkan saiia, meskipun saiia uda berulang-ulang menyatakan permohonan maaf padanya. Uoohhh.. Hidup memang gampang-gampang susah. Semoga akhirnya bisa berubah menjadi susah-susah gampang.
***
Kedua, mungkin secara pribadi saiia merasa belum lulus untuk ikut ber-Idul Fitri-an. Dosa saiia terlalu bertumpuk tuk bisa saiia saponi hanya dengan puasa satu bulan.
Memang, saiia bole bermanja sama Tuhan seperti Syaikh Abu Nawas: "Hamba ini ndak cocok masuk Surga, tapi klu Kau masukkan ke Nereka.. iia jangan duonk... :p"
Lantas sehari sesudah Ied biasanya saiia langsung beredar ke mana ajja nemuin siapa ajja tuk meminta maaf. Tapi saiia juga tetep takut pada tatapan mata orang. Dari kilatan mata seseorang dan dari guratan saraf di wajahnya serta dari cara badannya bergerak di depan saiia, sering saiia rasakan bahwa di dalam dirinya tetap ada kamar gelap yang saiia gag bisa jamin.
Ini bukan sangka buruk. Mungkin ini sekedar efek dari pengalaman hidup saiia yang ribuan kali ditikam dari belakang oleh orang-orang yang di depan saiia selalu tersenyum.
Saiia ungkapkan hal-hal semacam ini justru untuk menyatkan bahwa bagi saiia, memaafkan orang lain adalah kontrak seumur-hidup. Namun pada saat yang sama, saiia takut orang lain yang gag sungguh-sungguh memaafkan saiia, meskipun saiia uda berulang-ulang menyatakan permohonan maaf padanya. Uoohhh.. Hidup memang gampang-gampang susah. Semoga akhirnya bisa berubah menjadi susah-susah gampang.
Kita orang-orang kecil gag pernah tau apa yang terjadi. Mungkin ada gajah-gajah bertarung dan pelanduk jadi korban. Mungkin undzur man qoola... lihat siapa yang berkarya, dan bukan bagaimana karyanya. Mungkin friksi ekonomi, mungkin dendam pribadi, mungkin pejabat kawakan yang selalu membuat bawahannya takut. Mungkin pejabat yang melintas di Sudirman. Mungkin. Mungkin ini kasus sakit jiwa biasa.Persoalan terpenting adalah bagaimana para wong cilik awam tak berkekuasaan, jangan sampe terkena sakit jiwa, dan lalu karena penyakit itu kita lantas anti Pancasila, tapi malah merasa paling Pancasilais.

Indonesiaku ... Rumahku.

1. Buat puisi singkat atau kata-kata atau pesan, pokoknya mengenai Indonesia sebagai bukti kecintaan pada negeri ini....
2. Bagikan ke 10 teman yang lain, para blogger tanah air yang senantiasa memiliki dedikasi dan peduli terhadap segala aset dan budaya bangsa. Merdeka!
kopas mode is on* dari tempat asalnya... heheheh...
PENERIMANYA ADALAH :
Chikal, Raini Munti, Erwine Reidha, Karumbu Tribun, Mata Hati, chie_putRi, vaya, ateh75, Cyntia, Icha
Selamat tuk yang kelimpahan award ini dan... Terimakasii buat pak Guru Eka atas limpahannya, maaf baru bisa dipasang. Sekali lagi terimakasih :)
Gambar orang-orang horor berbendera didapet dari; lupa, uda lama nginep di plesdis sejak gegap gempitanya #indonesiaunite.
Teman-teman semua pasti sudah mengetahui tentang co.cc. Adalah sebuah situs yang disediakan untuk mengganti domain blogspot kita. Contohnya; genialbutuhsomay.blogspot.com diubah menjadi genialbutuhsomay.co.cc atau bahkan genial.co.cc. And it's all for FREE! Menyenangkan bukan mendengar kata-kata tersebut.
Selain terlihat lebih simple, -ya walaupun sebenarnya sama2 gratisan- dengan mengganti alamat domain kita di blogspot dengan co.cc bisa terlihat lebih profesional dan lebih banyak mengundang para advertiser untuk memasang iklan mereka di tempat kita.
Lalu bagaimana yang seharusnya kita -terutama yang pemula seperti saya ini- bisa mengubah domain kita di blogspot menjadi co.cc? Tentunya kita harus buat blog terlebih dulu. Untuk cara buat blognya bisa temen-temen klik link tadi.
Lalu mengapa kita mesti repot-repot mengganti nama domain ini? Bersusah payah membaca panduan buat blog? Selain kemudahan-kemudahan yang bisa kita peroleh seperti yang saya tuturkan di atas, jawabnya tentu mudah. Karena dengan domain ini, dijamin temen-temen akan mendapatkan Google Search Engine Friendly (dalam artian traffix meningkat/lebih bagus), dan selain gratis (walau hanya satu tahun) kamu bisa memperoleh dollar dari orang-orang yang kamu rekrut untuk daftar di sana. Kamu punya kendali penuh atas DNS kamu. Sebagai tambahan, uang yang kita peroleh, kisarannya adalah $ 0,1 atau sekitar Rp 1.000, lumayan?
[...]
Selain terlihat lebih simple, -ya walaupun sebenarnya sama2 gratisan- dengan mengganti alamat domain kita di blogspot dengan co.cc bisa terlihat lebih profesional dan lebih banyak mengundang para advertiser untuk memasang iklan mereka di tempat kita.
Lalu bagaimana yang seharusnya kita -terutama yang pemula seperti saya ini- bisa mengubah domain kita di blogspot menjadi co.cc? Tentunya kita harus buat blog terlebih dulu. Untuk cara buat blognya bisa temen-temen klik link tadi.
Lalu mengapa kita mesti repot-repot mengganti nama domain ini? Bersusah payah membaca panduan buat blog? Selain kemudahan-kemudahan yang bisa kita peroleh seperti yang saya tuturkan di atas, jawabnya tentu mudah. Karena dengan domain ini, dijamin temen-temen akan mendapatkan Google Search Engine Friendly (dalam artian traffix meningkat/lebih bagus), dan selain gratis (walau hanya satu tahun) kamu bisa memperoleh dollar dari orang-orang yang kamu rekrut untuk daftar di sana. Kamu punya kendali penuh atas DNS kamu. Sebagai tambahan, uang yang kita peroleh, kisarannya adalah $ 0,1 atau sekitar Rp 1.000, lumayan?
Sesuai dengan titlenya, dengan ini saiia mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa apdet lagi... dan sekalinya apdetpun hanya posting award, semoga gag menyinggung semua-muanya yang udah merasa pemberiannya diterbengkalaikan.Yang mo' ambil iia monggo di ambil, yang cuma mo' plototin, iia silahkan, yang mo' tebar pesona kek, nyanyi-nyanyi kek, ngeganja kek...
terserah akang sama mba'nya ajja iia... Sekali lagi saiia mohon maaf atas keterlamabatan pemajangannya, kebetulan di tetangga sebelah juga lagi saiia pajang hal serupa.
Segini ajja da.. pusing! Mo' lanjut bayar utang dulu ke tetangga :p
Segini ajja da.. pusing! Mo' lanjut bayar utang dulu ke tetangga :p
![]() | ![]() | |
![]() | ||
![]() | ![]() | |
![]() |
Ke dalam kubu-kubu perkampungan suku primitifpun kita gag bisa masuk begitu ajja sebelum mengekspresikan -entah melalui simbol apa- keinginan tuk diterima.Kulonuwun merupakan konsep pergaulan sosial yang telah ditemukan dan dikenal sejak manusia menjumpai dirinya hidup bersama orang lain. Konsep itu gag memerlukan proses modernisasi atau era-era kesadaran budaya yang muluk-muluk untuk dilahirkan.
Ia adalah modus, adalah tali penghubung antar manusia, yang terkait satu sama lain berdasarkan adanya kebutuhan, keinginan, cinta kasih atau mungkin permusuhan antar kedua pihak.
Namun demikian, jumlah manusia semakin lama semakin membengkak, lingkaran komunitas yang terbentuk juga semakin luas, blogwalking menjadi lebih panjang, baik kepada yang kenal maupun kepada para siluman blog, huahahahha... gpp... jangan tersinggung kang... semua jelas meluas, serta -dengan sendirinya- ruwet. Pergesekan pertalian dan perbenturan antar kepentingan manusia menimbulakan komplikasi masalah yang semakin kompleks, semakin memerlukan jalan keluar.
Betapa ragamnya kemudian -kita saksikan- pola-pola kultur kulonuwun, bergantung pada skala konteksnya. Kulonuwun dalam konteks birokrasi, politik dll dsb dkk yang metal-metal gondrong awut-awutan itu. Bahkan kulonuwun tetangga sajapun berbeda antara masyarakat suatu tempat dengan masyarakat yang lain.
Apalagi sesudah ada Negara; modus kulonuwun menjadi semakin ruwet dan ketat. Kita gag bisa serta-merta melompati pagar kebun penduduk Brunei Darussalam. Berjualan rokok itu gag menyalahi hukum, tapi kalau kita berjualan rokok di negara Malaysia tanpa memenuhi norma-norma kulonuwun antar negara, kita akan disebut pendatang haram.
Sangat panjang kalau ini kita urai satu-persatu. Tetapi yang penting, untunglah negara kita ini luas sangadh!!! hingga kita bisa mengembara bertahun-tahun berjalan kaki dengan lumayan bebas. Asal kita membawa KTP, kita bisa meloncat ke pulau Lombok, numpang bobo di gardu kamling sebuah dusun, ke Irian Jaya ikut nggandul pohon bersama suku-suku terasing.
Manusia jadi lucu-lucu dan aneh-aneh. Bikin sekolahan, merumuskan ideologi, mempertengkarkannya dengan darah dan mesin, sok pintar, cari nama besar, merintis karir, padahal ujung-ujungnya ya kempot, peot dan mati.
Oleh karena itu, sekali lagi saiia kulonuwun sama semua yang hadir di sini, mengetuk luasnya hati jeneungan sadayana, untuk kesembuhan temen saiia itu. Esok Rabu, sekembalinya dari RS tempo hari, beliau masih diharuskan menjalani Medical Check-Up. Kulonuwun Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, lindungilah dia, hamba dan kami semua. Bantulah kami men-suci di lutut Kuasa-Mu. Wa la aqwaa 'ala naril jahim.. Lhohhh?!?! Gag kowaaat hamba, Ya Rabbi!
Selalu ada gejala transparan dalam keberlangsungan sejarah. Biasa kita sebut arus bawah. Atau mungkin jeneungan bisa memakai istilah -misalnya- software dari realitas. Perangkat lunak kenyataan.Di dunia teater, akang sedulur sadayana harus peka terhadap apa yang tersimpan di balik sorot mata dan mimik wajah seorang aktor, agar jeneungan bisa menjadi juri yang baik yang mampu mencandra substansi makna dari yang diaktingkan oleh sang aktor.
Realitas sosial adalah juga aktor. Sampeyan 'dilarang' terlalu lugu menghadapi, memahami dan menilainya. Akang, -saiia termasuk- juga harus punya mata rangkap tuk menangkap yang tersirat di balik yang tersurat.
Membaca koran, menghadapi pola-pola informasi, mendengarkan pidato atau pernyataan, bahkan juga manakala suatu peristiwa seolah-olah -sekali lagi.. seolah-olah- terpampang secara utuh di hadapan kita; tetap harus disediakan mata rangkap itu.
Betapa beratnya tugas ilmu pengetahuan. Betapa beratnya tugas mata sejarah. Betapa beratnya tugas pengamat. Betapa ilmu harus sangat dan senantiasa dinamis, harus sangat dan senantiasa mengembangkan cakrawalanya agar ia gag ditipu oleh siluman-siluman realitas.
Peristiwa sehari-hari di kampung ajja susah bangeddd melihatnya secara jernih. Pertengkaran antar tetangga ajja gag gampang menyikapinya secara objektif. Apalagi menilai dan menyikapi perpolitikan nasional, perang teluk, tata dunia baru, perestroika glastnost, cairnya kutub utara, hancurnya peradaban di tahun 2012 atau segala informasi yang tiap hari mengepung kita.
Dekade sejarah yang kita jalani adalah suatu fase zaman yang disebut oleh kebanyakan orang era informasi.
Dari perspektif terurai di atas, kita menjadi tahu bahwa kemajuan tekhnologi informasi pada akhirnya gag terutama terletak pada kecanggihan perangkat-perangkat informasi itu sendiri, melainkan terletak pada bagaimana daya kritis manusianya, pada mutu kita semua sebagai makhluk informasi.
Jauh... jauh lebih penting daripada mempelajari tekhnologi informasi adalah meningkatkan kesanggupan untuk mengelola arus informasi itu dalam diri kita.
Sekali lagi: dalam komunitas kampung ajja kita bisa keleru harus menyetujui sopo', harus memuji pihak mana, harus mengutuk si Palijo ato Pardikem. Apalagi peta-peta yang lebih besar dan lebih luas. Kita bisa keleru menilai yang salah penduduk ato gubernur ato konglomerat ato keseluruhan sistem yang berlaku. Kita bisa keleru menjunjung pihak yang semestinya dihukum dan menghukum pihak yang semestinya didukung.
Dalam kasus hukum di negeri ini, apalagi yang kaitannya dengan negeri seberang, terutama yang berkonteks politik, tanah, kebudayaan atau hak asasi, kita sering terkurung dalam kekeliruan semacam itu.
Koran dan media massa gag pernah kekurangan 'pangan', layaknya ayam kampung, gag akan mati kelaparan. Selalu ada ajja peristiwa di antara manusia baik yang berskala lokal, nasional maupun internasional, yang menjadi nafkah para pekerja media massa.
Tapi.. ingat satu hal.. pengetahuan kita gag sampe 24 persen...
nb : Malaysia? Hmm...
Gambar maen habeg dari tempatnya Bang Buwel.




Indonesian. Indonesia pada hakikatnya merupakan kumpulan dari keluarga-keluarga yang tersebar dilebih dari 12.000 pulau yang ada di Nusantara.. Tiga tulisan yang sejajar di bawah slider ini mengutip langsung dari blog
Strong. Apabila keluarga-keluarga ini kuat, maka Indonesia akan menjadi Bangsa dan Negara yang Kuat dgn sendirinya tanpa perlu konsep yg berbelit-belit dan biaya yang membebani negara.
from Home. Pastikan keluarga kita dan keluarga sanak famili kita di seluruh tanah air telah menjadi bagian dari Gerakan Membangun Indonesia yang Kuat dari KELUARGA! 




