Jakarta tanpa Mobil

Apa bukannya penghinaan namanya jika mobil diperlakukan bak hewan suci? Jika kita benar-benar menginginkan jawabnya, coba tengok dua aspek berikut;

1. Produksi Massal

Produksi massal kendaraan bermotor membawa dampak berupa kejayaan absolut ideologi borjuis (taelaah) pada tataran kehidupan sehari-hari. Hal ini memunculkan dan mendukung ilusi bahkan mantra-mantra pada semua orang bahwa tiap individu bisa memperoleh keuntungan, sementara orang lain yang akan membayar harganya.

Misalnya saja, kebrutalan dan keegoisan-agresif para pengemudi yang pada tiap saat 'membunuh' orang lain yang baginya hanya merupakan penghalang dan penghambat laju mobilitasnya.

2. Paradoks

Tak dapat dipungkiri bahwa ternyata mobil merupakan contoh paradoksal dari barang mewah yang terdevaluasi akibat proses penyebarannya sendiri. Akan tetapi, devaluasi dalam level praktis ini gag diikuti dengan devaluasi ideologis.


Mitos tentang kepuasan dan keuntungan dari mobil tetap bertahan, sehingga meskipun transportasi massa telah menyebar luas, superioritasnya tetap bertahan, bahkan penyebaran mobil-mobil pribadi telah menggeser transportasi massa dan mengubah -ironisnya- perencanaan tata kota berikut pemukimannya.

Untuk membongkar situasi ini, dibutuhkan adanya revolusi ideologis (kultural) yang bukan dari kelas penguasa.

Jika merasa tertinggal mengapa tulisan seperti ini muncul di sini, silahkan baca terlebih dulu Ideologi Mobil seperti yang kami pernah tuangkan di situ. Enjoy!

23 komentar:

  1. wahhh.. gk kebayang kalo jakarta tanpa mobil...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kebayang kalo tanpa mobil udara jadi virgin lagi.

      Hapus
  2. iia biasa ajja kang.. adem

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan masih ada kendaraan2 umum kang :(
      yang di apus atau disingkirin tu mobil pribadi ajja :(

      Hapus
  3. Wah... Ini sangat menarik sekali. Tapi selain dari semua itu mobil banyak sekali kelebihannya lho. Sehingga sangat tidak mungkin jika jakarta tanpa mobil.

    BalasHapus
  4. kata2 diartikelnya berat banget dah :D

    BalasHapus
  5. wah saya jadi ngebayangin yang berlebihan nih,,,membayangkan kota jakarta dengan warna hijau tumbuhan yang mendominasi tiap sudutnya,,,kaya singapore,,,kota dalam hutan,,,

    BalasHapus
  6. . . tanpa mobil?!? emmmmmmmmmmmm,, kayak nya gak akan mungkin dech. karna disana kan banyak . .

    BalasHapus
  7. Mengurangi keberadaan mobil di jakarta saja sudah sangat sulit. ti bagus artikelnya. Support

    BalasHapus
  8. paradok tu apa ya? gue nggak paham sih..hehe

    BalasHapus
  9. paradoks seringkali digunakan dengan kontradiksi, tetapi sebuah kontradiksi oleh definisi tidak dapat benar

    BalasHapus
  10. Klo Jakarta tanpa mobil dan kemacetan bukan Jakarta lagi donk hehe.
    And klo di liat banyaknya mobil di Jakarta adalah salah satu daya tarik kota itu juga. Sepertinya ketertiban and peraturan lalu lintas yg harus di perhatikan lebih untuk mengurangi kemacetan di kota itu.

    Salam.

    BalasHapus
  11. no no its imposible jakarta with no car, except when ied mubarak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sisakan kendaraan2 umum ajja kang :(

      Hapus
  12. saya suka transportasi umum... hahahaha....
    tapi mesti dibenerin juga pelayanan dari tu jasa pengangkutan umum,, tau ga bisa langsung, tapi bisa bertahap dunk buat memperbaikinya.. :)

    Keep it up.. ;)

    BalasHapus
  13. wah, saya sendiri g tau jakarta kek ap kak, hehe

    BalasHapus

D'APRÈS VOUS?