Etos Kerja dan Etos Hasil

Etos Kerja dan Etos HasilKrisis Sejarah

Dalam struktur makro masyarakat nasional kita, mayoritas penduduk desa tergolong kelas bawah, atau paling jauh ada satu-dua lower-middle. Tapi dalam struktur mikro masyarakat desa itu sendiri, terdapat tatanan tersendiri, ada variabel khusus, serta ada sifat-sifat tertentu yang meskipun diakibatkan oleh sistem-makro, namun harus diperhitungkan juga secara lokal. Artinya, di antara lapisan bawah itu masih ada kelas-kelasnya lagi, terutama secara ekonomi.

Paling banyak anak-anak muda gag tamat Es De. Itu betul-betul lowest. Sekian lainnya gag tamat Es Em Pe dan sekian lagi beruntung mengecap bangku Es Em A. Ini kelas ekonomi yang berbeda-beda. Iklim sosbudnya relatif sama, tetapi selalu ada faktor-faktor gag kecil yang membedakan perilaku sosial budaya mereka, ekspresi hidup, pola konsumsi mereka dan seterusnya dan seterusnya.

Pada kesemuanya itu ada suatu paralel. Ada benang merah yang mempertemukan kondisi mereka yang di akibatkan oleh semacam krisis sejajar. Artinya krisis yang ditimbulkan oleh bagaimana kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mengontruksi sejarah kemasyarakatan kita. Dalam hal ini, yang menonjol dari kebijaksanaan itu adalah kebelum-merataan pembangunan ekonomi, kebelum-seimbangan antara frekuensi peningkatan ekonomi dengan tawaran konsumsi-konsumsi yang dibawa serta oleh peningkatan ekonomi makro tersebut.

Dari sudut lain, hal terakhir itu bisa kita sebut sebagai timpangnya penerapan teknologi sebagai perangkat inovasi kesejahteraan dengan posisinya sebagai pedagang mimpi, artinya iming-iming konsumsi. Hal ini didukung oleh lembaga-lembaga pendidikan yang umumnya gag mampu memberi landasan pengetahuan dan kesadaran kepada anak muda kita, agar bisa menghadapi keadaan tersebut secara sehat.

Kita semua sudah tahu bahwa kurikulum pendidikan formal kita hampir selalu gag mengusahakan integritas yang runtut dengan permasalahan yang terus menerus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Namun dengan mengemukakan hal tersebut gag berarti saiia semata-mata menyalahkan para pengajar, karena sepanjang pengetahuan saiia: bahkan banyak sekali mahasiswa-mahasiswa tingkat tinggi yang hidup di tengah pusaran pusat perubahan perkembangan masyarakat modern ini, gag lah cukup mengetahui seluk-beluk perubahan dan permasalahan yang dikandung oleh masyarakatnya. Mereka bahkan gag sedikit yang juga menjadi pasien dari apa yang di atas saiia sebut sebagai krisis sejarah.


It's a damn trilogy kinda post, so... you have to wait all of the rest of these post :p

15 komentar:

  1. Mencoba mengerti tulisan yang membutuhkan intelektualitas.
    Selain faktor pendidikan, keuletan terhadap suatu pekerjaan juga menjadi nilai tambah kesuksesan.

    BalasHapus
  2. Krisis berkepanjangan yang ga akan pernah selesai...
    kerna banyak orang hanya tahu kulit...ga kenal daging dari pengetahuan atau apapun itu....

    BalasHapus
  3. Ehm sebenernya atau setuju ya... hiiihihi, jadi gini, ada untungnya juga tamatan 2 sd dan tamatan2 smp soalnya kalo rakyat itu sarjana semua saya kira nggak ada yang mau jual koran, nyangkul sawah, atau mbecakkkk... :-)

    BalasHapus
  4. ngintil buwel bang Gen... ^_*

    BalasHapus
  5. ending mau kemana nih kira2? merombak sistem pendidikan atau tatanan sosial di masyarakat???

    BalasHapus
  6. saling berkaitan kalau sudah soal yg ini, pusing...

    BalasHapus
  7. kalau negara berkembang apakah selalu seperti ini?

    BalasHapus
  8. *????* hehehehe... Agak nggak mudeng. Saya dapat menyimpulkan kalau kurikulum pendidikan formal yag ada di sekolah2 ini hanya itu2 aja, tidak mengikuti perkembangan yg ada di masyarakat dan dunia. Padahal ada keterkaitan diantara itu semua.

    BalasHapus
  9. genial nih orgny gmn y? jd pgen knl heheh abis ngmgny lucu, oo tnyata bbr it buy blog reviews y kl it mb udh lm pake, dulu sring byk twran tp skrg g lgi,mgkn krn mb g bwt 1 review dr advertiser abis ttg poker online sih :)

    BalasHapus
  10. saya nyimak aja dh he..he..

    BalasHapus
  11. yalaah..trilogy
    cepetan ya
    saya follow lho.

    BalasHapus
  12. mampir aja bang, bengong am temanya *nda mudeng*

    BalasHapus
  13. klo baca judulnya
    maka saya akan membuat sebuah konklusi : kalau yang di tanam ilalang maka ga akan mungkin kita panen padi,
    etos hasil akan dipengaruhi oleh etos kerja.

    saya suka dengan "krisis sejarah" sentilan untuk kaum pembaharu yang katanya modern tetapi tidak menjiwai dan memanfaatkan proses yang telah terjadi, masa lalu bisa jadi pelajaran berharga, untuk dipakai lagi jika bermanfaat dan dibuang jauh jika membawa mudharat.

    BalasHapus
  14. Manusia jadi lucu-lucu dan aneh-aneh. Bikin sekolahan, merumuskan ideologi, mempertengkarkannya dengan darah dan mesin,
    sok pintar, cari nama besar, merintis karir, padahal ujung-ujungnya ya kempot, peot dan mati. sapa menanam .............. (apa iia katanya bung Karno ............... menuai badai ngono lah pko'e :(

    ojoo nessuuuu :p

    BalasHapus

D'APRÈS VOUS?